Berbagi Informasi

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

catatan 6 Malaikat tanpa Sayap

Malaikat tanpa Sayap

"Punya film Malaikat tanpa Sayap ?"
"Nda…"
Berkali-kali ia menanyakan punya film itu atau tidak. Nyari sampai dapat. Dan hampir setahun baru bisa sempat nonton tu film. Bukan karena penasaran, tapi karena bĂȘte. Jalan ceritanya bagus, dan menguras air mata.
Berawal dari keluarga yang tidak harmonis, mengorbankan sekolah demi mencari biaya rumah sakit untuk si Adik. Dan rela menjual jantung demi biaya si Adik.

Hingga saat-saat menjelang operasi jantung, ia menuliskan surat kepada setiap yang dikasihinya. Sudah tentu jelas, membayangkan saat-saat perpisahan sebelum kematian adalah saat-saat yang sangat menyedihkan. Menulis surat untuk yang terakhir kalinya, mencintai untuk yang terakhir kalinya. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

Berlanjut....alih-alih rela mengorbankan jantung si Adik, ia lebih rela lagi mengorbankan jantungnya setelah tahu bahwa jantungnya itu rupanya akan didonorkan pada kekasihnya. Akhir cerita, sang ayah yang ditembak oleh selingkuhan Ibunya kemudian mengorbankan jantungnya. Dan seperti biasa, film sinetron Indonesia selalu berakhir bahagia. Ia dan kekasihnya menikah. Dan menjadi keluarga baru. Meski tanpa Ibu. Hidup terus berjalan. 

Sebab, katanya, cinta itu adalah siap ditinggalkan atau siap meninggalkan.

Yup, itu benar. Sebab, di setiap akhir pertemuan hanyalah perpisahan. Tidak ada yang lain.

Maka, apa yang sering membuat kita lupa untuk menerima perpisahan ?

Catatan 6 : Muhasabah Kematian

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu dikembalikannya hanya kepada kami.

Bismillahirrahmanirrahiim…
Membicarakan kematian lebih banyak kita dengar di acara ta’ziah dibanding di tempat kerja, sekolah, ataupun di tempat umum. Meski sudah nyata jelas ‘lha wong ta’ziah kan memang untuk orang meninggal..ngapain dibahas di tempat kerja, sekolah atau di tempat umum ?”

Padahal, kapan dan dimanapun kiranya perlu mengingat kematian. Sebab, jika ajal sudah datang menjemput, maka tak akan ada seorang pun yang mampu menolong. Mencari alat canggih pun untuk menolak kematian, tidak akan kita temui. Atau mungkin jika saja ada, yakin-akan ada yang bersusah payah untuk bisa membelinya meski mahal. Menggadaikan mobil, rumah, perusahaan, dan mengorbankan istana sekalipun akan dilakukan untuk menolak kematian. Tapi duhai saudaraku, kematian adalah sebuah kepastian yang tak kita ketahui di tanggal mana ia akan datang. Tak ada tawar menawar. Harta dan materi lainnya sungguh tiada arti.

Sekali lagi, sungguh ia akan datang pada saat-saat yang tidak mengenal waktu. Apakah ia akan datang saat kita sedang keluar rumah, menjelang tidur, saat bercengkrama, saat bergosip, saat marah atau saat kita sedang bersantai. Maka, kiranya apa yang menghalangi kita untuk tidak segera bertaubat jika kematian datang tiba-tiba ?

Mungkin bagi kita kematian adalah hal biasa karena sudah sering kita melihat dan mendengar orang-orang yang mengalami kematian. Tapi kita belum merasakannya, bagaimana jika itu kemudian benar-benar terjadi beberapa detik kemudian, apakah kita masih menganggapnya hal biasa seolah mustahil ?

Maka, sebelum kematian datang menjemput dan selagi masih ada sisa-sisa nafas, menjadilah bersih. Menghapus seluruh kebencian, kedengkian, iri, dendam dan menghindari segala penyakit hati. Serta menjadi sahabat bagi Tuhan dan seluruh makhluk-Nya. Dengan begitu, yakin; Tuhan pun akan memantulkan kebaikanNya kepada kita di dunia dan di akhirat.


By : NN
Copyright © SRINANNA.COM. All rights reserved. Powered by Blogger.com